Cerpen 1
Hadiah Untuk Ibu
Sudah sejam aku menunggu, kakiku rasanya pegal sekali karena terlalu lama berdiri. Untung saja dari jauh aku pun melihat wajah yang tak asing itu, wajah yang sangat rupawan itu. Lihatlah rambut indahnya yang tergerai, disapa hangat oleh Sang Bayu. Lelaki mana yang tak menyukainya, dia bak sang dewi kayangan. Aku saja sampai terkagum-kagum dibuatnya. Yah, dia adalah Indira-kakakku. Usianya kini memasuki 20 tahun dan ia merupakan mahasiswi jurusan kedokteran. Aku dan kakakku janjian di tempat ini. Kami berencana membelikan hadiah ulang tahun untuk Ibu. Besok, tepatnya tanggal 27 november adalah ulang tahun Ibu yang ke 46 tahun. Sekarang kami hanya bertiga. Ayah meninggal sekitar 7 tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. Saat itu, Ibu berjuang untuk menghidupi kami berdua. Untung saja Ibu pandai membuat kue kering, cupcake, juga kue ulang tahun. Sehingga dari situlah Ibu memulai usahanya. Awalnya Ibu memulai usaha kecil-kecilan tapi berkat kerja kerasnya Ibu bisa mendirikan toko kue dan cukup laris manis. Terkadang, aku dan kakakku membantu Ibu di toko.
"Maaf, yah lama. Tadi kakak antar tugas dulu." Ujar Indira
Aku masih diam, memasang muka masam dan berlagak marah seperti anak kecil. "Jangan marah dong, Sher." Pinta Kak Indira. Yah, aku Shera. Si anak bungsu dikeluargaku dan paling tidak suka dibuat menunggu. Sungguh menunggu itu tidaklah mengenakan.
"Nanti aku belikan gulali warna biru. Bagaimana? Dimaafkan tidak?" Dan terbitlah senyum manis di wajahku, dia berhasil membujukku.
"Tapi, lain kali jangan telat lagi. Kakiku pegal tahu!" Kataku pada Kak Indira
"Idih, kayak nenek-nenek saja udah pegal-pegal." Ujar Kak Indira, lalu merangkul bahuku. Kami pun berjalan menuju pusat perbelanjaan.
Sudah tiga jam kami mencari hadiah untuk Ibu dan kami sudah mendapatkan hadiah yang sangat bagus. Aku jadi tidak sabar untuk memberikannya, pasti Ibu sangat menyukainya. Dan sekarang saatnya kembali ke rumah.
Setibanya di rumah, aku langsung beranjak menuju kamarku dan merebahkan diriku di atas ranjang kecilku yang empuk. Aku memejamkan mataku,
Dan...
Bugh!!!
Sebuah bantal mendarat tepat di kepalaku.
"Kakak!" Raungku,
"Tidur melulu. Mandi sana!" Aku tidak menghiraukannya dan kembali menutup mataku, tetapi ia menarik kakiku hingga aku tersungkur ke lantai. Aku kesal. Aku berdiri dan meraih bantal lalu memukulnya, ia menghindar dan tersenyum mengejek, lalu ia berlari ke luar kamar dan aku pun mengejarnya. Terjadilah peperangan kecil antar saudara.
Aku menuruni anak tangga dengan sangat cepat, berusaha mengejar Kak Indira, kami berlarian menyusuri dapur. Aku mulai merasa kesal dan melemparkan bantal itu ke arahnya.
Bugh!
Habislah aku! Bukannya mengenai Kak Indira, bantal itu justru mengenai Ibu-tepat saat Ibu masuk ke dapur. Ibu mengambil bantal dan berjalan menuju anak tangga. Tiba-tiba Ibu berhenti dan berkata, "Ayo, love and hug!" Aku dan Kak Indira pun saling menatap sinis, kami saling mendekat satu sama lain kemudian aku memegang kedua pundak Kak Indira, begitu pun sebaliknya. Lalu kami berkata, "Aku sayang padamu!". Jangan tanya sampai kapan kami akan seperti itu? Karena dari pengalaman, Ibu menyuruh kami berhenti paling cepat sekitar dua jam. Yah, begitulah cara Ibu menghukum kami berdua. Unik memang, itulah Ibuku-Maleva Adelia. Ibu yang sangat aku sayangi, pahlawanku dan segala-galanya.
Sekarang pukul 20.15, aku masih mengerjakan tugas sekolahku. Berkutat dengan rumus-rumus kimia yang sama sekali tidak kusukai tetapi aku harus menyelesaikannya. Aku sekarang duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku cukup pintar dikelas tetapi bukan rangking pertama. Aku hanya menempati posisi ketiga di kelas. Itu karena aku lemah di pelajaran kimia. Aku tidak begitu menyukainnya, tetapi demi Ibu aku rela mengambil jurusan Ipa-Kimia di sekolah. Setelah tugasku selesai, aku pun menutup bukuku dan segera beranjak tidur. Aku menarik selimut hingga ke dadaku, aku melihat ke kotak yang terbungkus cantik itu-kado untuk Ibu. Aku pun tersenyum dan menutup mata.
Di tengah malam, sekitar jam 11, aku terbangun karena ingin buang air kecil. Dengan wajah masih sangat mengantuk aku pun berjalan keluar menuju kamar mandi. Saat hendak kembali menuju kamar, aku mendengar suara ribut dari arah kamar Kak Indira. Aku pun berjalan ke sana, di depan pintu Kak Indira aku mendengar suara Ibu, aku ragu-ragu membuka pintu itu. Tapi, aku juga sangat penasaran.
Jlek...
Aku membukanya dengan pelan, Ibu langsung melihat ke arahku sedangkan Kak Indira tertunduk menangis. Ibu menghampiriku yang masih berdiri di ambang pintu. Ia menarik tanganku dengan kasar.
"Duduk! Ibu mau bicara." Aku pun duduk di ranjang Kak Indira.
"Apa kamu punya pacar?" Ibu memberiku pertanyaan dengan nada mencekam, aku ketakutan dan tidak berani menatapnya. Aku bingung apa yang sedang terjadi. Ini pertama kalinya aku melihat ibuku sampai semarah ini.
"Jawab Shera!" Ujar Ibu dan membuatku kaget.
"Tidak, Bu." Jawabku pelan. Ibu jatuh terduduk di lantai dan menangis, ia menutup matanya.
"Ayah kalian sudah tidak ada, kalian tahu itu dan kamu sangat tahu itu Indi. Ibu berusaha membesarkan kalian, menjaga kalian semampu Ibu. Tapi apa? Ibu tidak bisa! Bagaimana keadaan ayah kalian di alam sana melihat kejadian ini huh? Jawab Indira. Bunda mendidik kamu menjadi gadis baik-baik tapi apa yang kamu perbuat." Ibu terus berbicara dan membuatku semakin bingung. Sedangkan Kak indira terus saja menangis.
Kak Indira mencoba mendekati Ibu tetapi tangannya ditepis dengan kasar. Aku pun mengumpulkan keberanian untuk mendekati ibuku, berusaha menenangkannya. Aku mengelus bahu ibu dan memeluknya, tangisnya pecah dan semakin menjadi-jadi. Ia memperat pelukanku.
"Jangan seperti kakakmu, Nak. Ibu mohon! Tidakkah kamu kasian melihat Ibu seperti ini. Cukup kamu bersekolah dengan baik dan menjaga dirimu, Ibu tidak bisa selamanya mengawasi kamu karena Ibu harus bekerja. Ayahmu sudah tidak ada, jadi Ibu mohon sama kamu. Jangan ulangi kesalahan kakakmu." Ujar Ibu kepadaku.
Aku mengumpulkan keberanian untuk bicara. "Bu, maaf Shera menyela pembicaraan ini. Tapi, tolong jelaskan ada apa ini? Jangan membuat Shera bingung."
Ibu berdiri dan berjalan ke arah meja rias kakakku, wajah Ibu tiba-tiba marah. Ibu melemparkan sebuah benda kecil kepadaku. Aku pun mengambilnya dan menatap lamat-lamat benda yang dilemparkan Ibu. Itu adalah tes kehamilan tetapi aku tidak tahu cara melihat hasil tes itu.
"Dua garis!" Kata ibu, aku mencoba memahami. Apakah Kak Indira hamil? Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku melihat ke arah Kak Indira, ia memegangi perutnya.
"Dua garis, Sher. Lihat kakakmu itu! Percuma Ibu sekolahin tinggi-tinggi tapi kelakuannya tak terdidik. Jangan kamu contoh kakakmu, paham kamu, Sher?"
Aku mengangguk, sambil memegangi hasil tes kehamilan milik kakakku dan tiba-tiba saja jam dinding kamar Kak Indira berbunyi. Pukul 00.00. 27 November pun tiba, hari ulang tahun Ibu. Semua sadar akan hal itu, tetapi keadaan saat ini sungguh memukul hati. Hening. Hanya itu yang mampu membahasakan keadaan saat ini. Sungguh tahun ini adalah hadiah terburuk untuk Ibu--Dua garis milik Kak Indira.
Ih, jarang bisa nemu cerpen sebagus iniii!!! Tidak menyangka Indira harus begitu, padahal mereka berdua mau rayakan ultah ibunya :0
BalasHapusBisa nda kak jadikan novel? Soalnya ingin baca lagii!
Keren sih cerpennya, plotnya khas. Kerenn
Ayo kakk sering-sering upload ^^ pengen baca semua karyanyaa
BalasHapus